Chapter One
Gerimis deras sore itu cukup menghalangi saya untuk pulang ke rumah. Mungkin karena diikuti petir yang sesekali menggelegar menghentakkan suara lantangnya membuat kerumunan murid-murid disekolahku menjerit tak keruan, apalagi yang cewek-cewek. Hufh, moment ini biasanya langsung jadi ajang aji mumpung bagi temen-temen cowok. Di pojok kelas aku dan ati diam seribu bahasa, hanya tatap sudut mata aneh yang sesekali kutangkap sebagai petanda bahwa ati masih bernafas, syukurlah... takut juga kalau tiba-tiba dia mati berdiri dihapapanku hihihihi.... Aahh... bibirnya bergerak, "del, sudah hampir jam enam nich, kita pulang aja apa gimana?" ujarnya. Dengan malas waktu itu ku jawab "terserah ati aja". Dengan penuh gelisah, ditarik jemari mulusnya dari genggamanku "kan udah makin gelap nich" katanya. lalu kujawab "anak-anak kan masih banyak diluar, kalau mereka pulang, ya udah kita ikut aja" tambahku. Sambil berdiri ati melongok keluar dan melihat kerumunan anak-anak yang menunggu gerimis mereda belum berkurang.
Salah satu nilai positif sekolah sore bagi ku ya moment seperti hari ini, Rabu tanggal 17 Oktober 1990, gerimis deras, kilat dan petir membuat murid-murid bertahan di sekolah. Banyak alasan untuk tetap tinggal di sekolah dengan kondisi ini, ada yang memang gak mau kena air hujan dan berjalan diiringi kilat dan petir, ada yang memanfaatkan histeria yang berakhir dengan pelukan sesaat dan ada yang seperti aku, menahan pacarku untuk tinggal sejenak setelah penat menyantap hidangan guru-guru dengan mata pelajaran yang memuakan. Suasana seperti ini membuat otakku berfantasi dengan bebasnya sehingga bereaksi pada sesuatu yang bergelantungan di bawah perutku. Apalagi dengan posisi duduk seperti ini, membuat menu semakin hangat yang sesekali dibumbui dengan gesekan tanpa sengaja dari tangan lembutnya ati. Otakku udah dipenuhi adegan-adegan mesum yang kutonton dari film-film biru yang mejadi pengantar tidur dikamarku, diiringi napas yang memburu dan detak jantung yang makin menggebu.
Aku mengeser kepala ati dengan lembut dari bahuku dan berdiri melihat kerumunan temen-temen diluar kelas dan pelan-pelan menutup pintu. Kemudian ku ajak ati pindah ke pojok belakang sehingga posisi kami nyaris tidak kelihatan oleh anak-anak. Aku mainkan strategiku, kuraih lengan ati ke pelukanku dan kemudian.....
Chapter Two
Marni selalu memberikan buku catatanku setiap sepulang sekolah tapi hari ini aku harus menjemput kerumahnya karena sudah tiga hari aku bolos sekolah. Marni teman sekelas yang selalu mendapat rangking terbaik di jurusan ku, waktu itu disebut kelas A3 untuk jurusan ilmu-ilmu sosial. wajahnya yang bulet dan rambut ikal panjang membuat wajahnya terlihat manis dan menggemaskan ketika senyum tipis merekah dimulutnya yang kecil. Aku pernah juga mengirimkan surat cinta padanya namun ditolak dan aku disuruhnya untuk setia pada ati. yach, apa boleh buat... gak bisa dipacarin yang dijadikan sekretaris ajalah hahahaha... aku memang sering bolos sekolah apalagi dihari jumat dan sabtu untuk kepentingan profesiku sebagai model dan penyanyi di Kota ku ketika itu. Karena popularitas itulah banyak temen-temen yang ingin menjadi bagian dari popolaritas itu dan tentunya ada juga yang memilih menjadi musuh, maklum namanya juga manusia hehehehehe....
Marni membuka pintu dengan tergesa-gesa dan kelihatan sekali baru selesai mandi dari rambutnya yang basah dan wajahnya yang berseri tanpa bedak sedikitpun. Aku dipersilakan masuk dan dengan ragu-ragu aku melangkah masuk takut ketahuan orang tuanya. "Masuk aja, mereka lagi pada kerumah pak cik" kata marni melihat keraguanku. "ooohhhh" hanya itu kata-kata terbodoh yang berhasil aku keluarkan dari mulutku dan dengan penuh percaya diri aku langsung meletakan pantatku dikursi tamunya yang empuk. "bentar ya, aku ambilkan bukumu del" kata marni. Aku hanya mengangguk namun otakku gak bisa dibohongi, sambil menunggu marni, rencana demi rencana sudah mulai kususun rapi... hhmmm, moga-moga kali ini marni akan takluk dalam pelukanku.
"Nach, ini dia buku catatan enam mata pelajaranmu" kalimat yang membuyarkan semua khayalanku bermesraan dengan marni dikursi tamu ini. Sambil berciloteh gak jelas, marni menjelaskan beberapa latihan yang harus dikumpulkan minggu depan. Seolah tidak menyadari mata keranjangku menelanjangi seluruh tubuhnya yang menduplikat gitar spanyol itu marni terus menerangkan mata pelajaran yang sudah tak masuk lagi dalam benakku saat itu, yang ada dalam benakku hanyalah hasrat untuk menghujamkan ciuman pada bibir tipis dan mulut mungil itu. Seolah didorong oleh angin puting beliung, aku dengan tiba-tiba sudah merebahkan tubuh marni tepat dikursi panjang khayalanku tadi. Dengan tenaga penuh, marni meronta hendak melepaska gumulanku namun dalam sekejap rontaan itu berubah menjadi tarikan magnit yang kuat menempelkan tubuhku dengan tubuhnya. Satu demi satu, sekumpulan benang yang ada ditubuhnya berhasil kutanggalkan sehingga dongkakan gunung seolah mengajakku menaikinya dan penjelahan itu berakhir dengan tangisan pilu serta tetesan darah.
Chapter Three
Dikota kecilku hanya inilah SMA satu-satunya dan sekolah lanjutan atas lainnya ada MAN dan SMEA. Petualanganku mengejar para gadis di kota kecilku ini berlanjut ke SMEA karena aku tidk tertarik dengan cewek-cewek MAN dengan kerudung putihnya. Adalah Handayani cewek idola di sekolah ini yang menjadi incaranku, berasal dari kota lain yang lebih kecil dari kotaku dan dia kos dideket sekolahnya. Dengan kepopularitasanku, tentunya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan perhatiannya dengan bantuan pesuruhku.
Hari minggu itu yani tidak pulang ke kotanya karena aku telah menjanjikan mengajaknya jalan-jalan ke kebun keluargaku. Untuk lebih meyakinkan, pesuruhku pun ikut serta dengan gadisnya yang diantaranya adalah temen sekolahan yani. Menaiki sepeda motor yang memiliki knalpot memekakkan gendang telinga masyarakat sekitar kebun aku dan rombongan melaju dengan gagahnya. Tentunya masyakarat itu tidak bisa berbuat apa-apa karena sebagian besar dari mereka bekerja di kebun keluargaku, pastilah mereka akan mati kelaparan jika main-main denganku.
Bagaikan rombongan pejabat kampungan, kami memaju sepeda motor dan memecahkan kesunyian kampung sampai akhirnya kami berhenti dipondok yang dibuat untuk mengawasi kebun oleh para pekerja. Seolah sudah paham akan kedatanganku para pekerja yang berada disekitar pondok perlahan-lahan pindah tempat ke lokasi lain dan meninggalkan ku dan rombongan remaja pencari kesenangan ini. dan setelah semua mendapat tempat yang strategis, suasana membisu dan yang terdengar hanya desahan membara gadis-gadis belia dilanda desakan bara panas pemuda belia yang baru kenal nikmatnya liang pemuas birahi ooohhhh hanya sawung lapuk dan ilalang ditepi persawahan menjadi saksi indahnya sore itu.
Apa boleh buat, aku harus melihat Om Tyo selama beberapa hari kedepan karena Ibuku harus mengikuti penataran di kota Denpasar dan untunglah hingga hari ini adalah hari yang ketiga aku dapat menyesuaikan diri dengan tata tertib dirumah Om Tyo. Meski di rumah itu Om Tyo hanya tinggal berdua dengan Istrinya yang cantik dan mungil namun mereka tetap menjaga kedisiplinan didalam rumah. Sepulang sekolah hari itu, Tante Ria menyempatkan diri menungguku dan meyampaikan kabar bahwa sore itu Tante Ria dan teman-teman diorganisasinya akan melakukan dharma wisata ke beberapa kota besar dan Beliau memberikan catatan kecil tugas-tugasku selama dirumah nantinya. "Adjie, hati-hati dirumah ya, sepulang sekolah jangan keluyuran. langsung pulang dan tidur siang" dari jendela bis, Tante Ria masih sempat meneriakkan wejangannya. "Iyaahhh" jawabku singkat sambil melirik jam tangan yang telah menunjukan pukul 15.47 wib. Aku langsung bergegas ke kamar dan keluar rumah mengendarai sepeda motor kesayanganku menuju rumah Iwan menghabiskan soreku.
Jam sembilan kurang dua puluh malam aku sudah kembali kerumah dengan hati-hati aku buka garasi dan memarkir motor disamping mobil Om Tyo dan langsung berlari-lari kecil kedalam rumah, ya, aku takut ketahuan pulang jam segini karena Om Tyo sudah mengharuskan menjelang magrib aku sudah berada dirumah. melewati ruang TV aku terperanjat setengah mati melihat Om Tyo tertidur dikursi sofa hanya mengenakan celana dalam tipis, dengan dongkakan seonggok daging bulat panjang hinga ke perutnya terlihat dengan jelas! Melihat pemandangan itu aku jadi pengen tertawa terbahak-bahak tapi takut ketahuan sembari melirik kearah TV yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak keras... ternyata Om Tyo memutar fillm porno ! tentu saja aku tidak mau melewatkan kesempatan ini, tanpa pikir panjang aku duduk dilantai dengan hati-hati agar Om Tyo tidak terbangun. Makin lama tubuhku makin memanas dan menegang sehingga membuat otakku mengajak mata tidak mau berkedip dari layar TV itu.
Setengah jam telah berlalu membawaku ke fantasi paling menyenangkan diiringi tarian jemari diatas paha dan selangkanganku dengan mata terpejam, seakan mengikuti liukan musik orkestra yang gemulai dan tak kuhiraukan lagi adegan panas di TV. Fantasi itu membuatku tidak menyadari Om Tyo dengan gagahnya telah berdiri dihadapanku dan menarik tanganku ke permadani lembut didepan TV, tanpa basa basi bibir Om Tyo mendarat tepat dibibirku dan melumatnya dengan perkasa. Aku meronta dengan sekuat tenaga, namun tubuhku terlunglai tak berdaya disekap tubuh kekar Om Tyo yang menyesakkan dada, kuncian bibirnya dibibirku membuatku tak dapat berkata apa-apa. Kemudian Om Tyo membalikkan tubuhku dan mengunci tanganku dari belakang. Dengan jelas aku rasakan segumpal daging hangat dan besar memasukin tubuhku perlahan-lahan setelah dilumasi dengan air ludahnya dan rasa sakit itu tak tertahankan membuat jeritan-jeritan kecilku semakin terdengar. Om Tyo langsung menyumpal mulutku dengan celana dalamnya dan sedikit membentak "Diam atau kutembak".
Setiap malam aku disuguhkan martabak mesir kesukaanku oleh Om Tyo dan sebagai balasannya aku menjadi tumpahan air birahi Om Tyo dan malam ini aku sedikit lega karena ada 4 orang teman-teman Om Tyo bertandang kerumah tentunya malam ini aku bisa terhindar dari keganasan daging hangat dan besar Om Tyo itu. Namun ternyata rasa legaku hanya berlangsung 1 jam saja dan berubah menjadi kegelisahan seperti hari-hari sebelumnya karena Om Tyo tiba-tiba memasuki kamarku dengan mengenakan celana dalam. Seperti biasanya, Om Tyo membuka paksa baju dan celanaku hingga menghempaskanku diranjang. Belum sempat aku mengkhayalkan yang indah-indah, 4 orang teman Om Tyo memasuki kamarku dan melepaskan pakaiannya satu persatu sambil menyaksikan atraksi koboi Om Tyo menjelajahi tiap lekuk tubuhku. Satu persatu mereka melampiaskan kejantannya dan mentransfer tetesan air hangat kental melalui anus dan mulutku. Aku tandai malam ini adalah malam paling menyeramkan dalam hidupku, 5 orang lelaki perkasa melampiaskan birahinya ditubuhku yang tak berdaya. "Terima kasih Adjie, kamu telah membahagiakan saya" bisik Om Tyo lirih ditelingaku sambil berlalu meninggalkanku terbaring lemas dikasur yang sudah berantakan.
Perilaku menyimpang selama 11 hari itu telah membuatku menjadi seorang pemuda pendiam dan tidak memiliki asa untuk melanjutkan kehidupan sebagaimana teman-teman sebayaku dan bahkan menjadikanku seorang lelaki penyuka sesama jenis hingga saat ini. Aku selalu merindukan desakan daging bulat,panjang dan besar kedalam tubuhku meskipun sempat berumah tangga selama 8 tahun hasrat menyimpang itu tetap menghantuiku dan kembali mengantarkanku kedalam kehidupan kaum gay dan homo. Saat ini aku lebih memilih hidup bersama seorang lelaki dan meninggalkan istri dan anakku. Aku menerima karma dari perbuatanku menodai gadis sebaya tanpa pernah memperlihatkan tanggungjawab sebagai seorang lelaki.
"Hanya kata maaf yang dapat aku ucapkan kepada orang-orang yang pernah kukecewakan, Ibu, Istri dan Anakku tercinta"
Bagaikan rombongan pejabat kampungan, kami memaju sepeda motor dan memecahkan kesunyian kampung sampai akhirnya kami berhenti dipondok yang dibuat untuk mengawasi kebun oleh para pekerja. Seolah sudah paham akan kedatanganku para pekerja yang berada disekitar pondok perlahan-lahan pindah tempat ke lokasi lain dan meninggalkan ku dan rombongan remaja pencari kesenangan ini. dan setelah semua mendapat tempat yang strategis, suasana membisu dan yang terdengar hanya desahan membara gadis-gadis belia dilanda desakan bara panas pemuda belia yang baru kenal nikmatnya liang pemuas birahi ooohhhh hanya sawung lapuk dan ilalang ditepi persawahan menjadi saksi indahnya sore itu.
Chapter Four
Meskipun setengah malas, terpaksa aku harus mengungsi sementara di rumah Adik sepupu Ibuku. Namanya Anggara Prasetyo dan aku biasa memanggilnya "Om Tyo". Entah kenapa, setiap berkunjung kerumahku, Om Tyo selalu memandangku dari ujung kaki hingga ke ujung rambut dengan tatapan yang "aneh". Kadang aku jadi ketakutan, jangan-jangan si Om mengetahui perbuatan binalku dengan beberapa gadis yang telah kuperawani. Kalau itu terjadi, wah... bakal kacau balau semua bujuk rayu yang telah kukirim pada pacar-pacarku. Betapa tidak, Om Tyo adalah seorang Perwira yang disegani dikotaku dan bahkan dengan bantuannya seringkali aku terhindar dari pelanggaran-pelanggaran lalu lintas yang kulakukan seakan-akan aku kebal dari peraturan lalu lintas yang menjemukan itu.
Apa boleh buat, aku harus melihat Om Tyo selama beberapa hari kedepan karena Ibuku harus mengikuti penataran di kota Denpasar dan untunglah hingga hari ini adalah hari yang ketiga aku dapat menyesuaikan diri dengan tata tertib dirumah Om Tyo. Meski di rumah itu Om Tyo hanya tinggal berdua dengan Istrinya yang cantik dan mungil namun mereka tetap menjaga kedisiplinan didalam rumah. Sepulang sekolah hari itu, Tante Ria menyempatkan diri menungguku dan meyampaikan kabar bahwa sore itu Tante Ria dan teman-teman diorganisasinya akan melakukan dharma wisata ke beberapa kota besar dan Beliau memberikan catatan kecil tugas-tugasku selama dirumah nantinya. "Adjie, hati-hati dirumah ya, sepulang sekolah jangan keluyuran. langsung pulang dan tidur siang" dari jendela bis, Tante Ria masih sempat meneriakkan wejangannya. "Iyaahhh" jawabku singkat sambil melirik jam tangan yang telah menunjukan pukul 15.47 wib. Aku langsung bergegas ke kamar dan keluar rumah mengendarai sepeda motor kesayanganku menuju rumah Iwan menghabiskan soreku.
Jam sembilan kurang dua puluh malam aku sudah kembali kerumah dengan hati-hati aku buka garasi dan memarkir motor disamping mobil Om Tyo dan langsung berlari-lari kecil kedalam rumah, ya, aku takut ketahuan pulang jam segini karena Om Tyo sudah mengharuskan menjelang magrib aku sudah berada dirumah. melewati ruang TV aku terperanjat setengah mati melihat Om Tyo tertidur dikursi sofa hanya mengenakan celana dalam tipis, dengan dongkakan seonggok daging bulat panjang hinga ke perutnya terlihat dengan jelas! Melihat pemandangan itu aku jadi pengen tertawa terbahak-bahak tapi takut ketahuan sembari melirik kearah TV yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak keras... ternyata Om Tyo memutar fillm porno ! tentu saja aku tidak mau melewatkan kesempatan ini, tanpa pikir panjang aku duduk dilantai dengan hati-hati agar Om Tyo tidak terbangun. Makin lama tubuhku makin memanas dan menegang sehingga membuat otakku mengajak mata tidak mau berkedip dari layar TV itu.
Setengah jam telah berlalu membawaku ke fantasi paling menyenangkan diiringi tarian jemari diatas paha dan selangkanganku dengan mata terpejam, seakan mengikuti liukan musik orkestra yang gemulai dan tak kuhiraukan lagi adegan panas di TV. Fantasi itu membuatku tidak menyadari Om Tyo dengan gagahnya telah berdiri dihadapanku dan menarik tanganku ke permadani lembut didepan TV, tanpa basa basi bibir Om Tyo mendarat tepat dibibirku dan melumatnya dengan perkasa. Aku meronta dengan sekuat tenaga, namun tubuhku terlunglai tak berdaya disekap tubuh kekar Om Tyo yang menyesakkan dada, kuncian bibirnya dibibirku membuatku tak dapat berkata apa-apa. Kemudian Om Tyo membalikkan tubuhku dan mengunci tanganku dari belakang. Dengan jelas aku rasakan segumpal daging hangat dan besar memasukin tubuhku perlahan-lahan setelah dilumasi dengan air ludahnya dan rasa sakit itu tak tertahankan membuat jeritan-jeritan kecilku semakin terdengar. Om Tyo langsung menyumpal mulutku dengan celana dalamnya dan sedikit membentak "Diam atau kutembak".
Setiap malam aku disuguhkan martabak mesir kesukaanku oleh Om Tyo dan sebagai balasannya aku menjadi tumpahan air birahi Om Tyo dan malam ini aku sedikit lega karena ada 4 orang teman-teman Om Tyo bertandang kerumah tentunya malam ini aku bisa terhindar dari keganasan daging hangat dan besar Om Tyo itu. Namun ternyata rasa legaku hanya berlangsung 1 jam saja dan berubah menjadi kegelisahan seperti hari-hari sebelumnya karena Om Tyo tiba-tiba memasuki kamarku dengan mengenakan celana dalam. Seperti biasanya, Om Tyo membuka paksa baju dan celanaku hingga menghempaskanku diranjang. Belum sempat aku mengkhayalkan yang indah-indah, 4 orang teman Om Tyo memasuki kamarku dan melepaskan pakaiannya satu persatu sambil menyaksikan atraksi koboi Om Tyo menjelajahi tiap lekuk tubuhku. Satu persatu mereka melampiaskan kejantannya dan mentransfer tetesan air hangat kental melalui anus dan mulutku. Aku tandai malam ini adalah malam paling menyeramkan dalam hidupku, 5 orang lelaki perkasa melampiaskan birahinya ditubuhku yang tak berdaya. "Terima kasih Adjie, kamu telah membahagiakan saya" bisik Om Tyo lirih ditelingaku sambil berlalu meninggalkanku terbaring lemas dikasur yang sudah berantakan.
Perilaku menyimpang selama 11 hari itu telah membuatku menjadi seorang pemuda pendiam dan tidak memiliki asa untuk melanjutkan kehidupan sebagaimana teman-teman sebayaku dan bahkan menjadikanku seorang lelaki penyuka sesama jenis hingga saat ini. Aku selalu merindukan desakan daging bulat,panjang dan besar kedalam tubuhku meskipun sempat berumah tangga selama 8 tahun hasrat menyimpang itu tetap menghantuiku dan kembali mengantarkanku kedalam kehidupan kaum gay dan homo. Saat ini aku lebih memilih hidup bersama seorang lelaki dan meninggalkan istri dan anakku. Aku menerima karma dari perbuatanku menodai gadis sebaya tanpa pernah memperlihatkan tanggungjawab sebagai seorang lelaki.
"Hanya kata maaf yang dapat aku ucapkan kepada orang-orang yang pernah kukecewakan, Ibu, Istri dan Anakku tercinta"



